Walimah adalah, Islam telah menganjurkan kepada suami supaya mengadakan walimah untuk memberikan makan kepada sanak kerabat, teman-teman, fakir miskin, dan orang- orang susah, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pengakuan atas segala karunia-Nya. Dan tidak perlu memaksakan kemampuan, karena Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ

‘’Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya,” QS Ath-Thalaq (65):7).

Setelah akad nikah harus diadakan walimah, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada Abdurrahman bin Auf, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Semoga Anda diberkahi Allah, maka adakanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari & Muslim)

Berdasarkan hadis Buraidah bin Hushaib, ketika Ali menikah dengan Fatimah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap pernikahan harus ada walimah.” (HR. Ahmad)

Dari Anas, ia berkata, “Saya tidak pernah melihat Rasulullah melakukan walimah dengan istri-istrinya seperti melakukan walimah dengan Zainab, karena beliau menyembelih kambing” (HR. Bukhari)

Boleh juga walimah diadakan hanya dengan makanan sederhana walaupun tidak bercampur dengan menu daging. Anas berkata, “Pernah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bermukim di daerah antara Khaibar dengan Madinah dengan jarak tiga mil, melakukan walimah dengan Shafiyah binti Hujayy dan saya mengundang kaum muslimin untuk menghadin walimahnya. Dalam walimah itu tidak disiapkan makanan dan daging, Rasulullah menyuruh menggelar hamparan yang terbuat dari kulit, lalu diletakkan di atasnya kurma, bubuk susu, dan minyak samin. Itulah walimah beliau” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari Shafiyah binti Syaibah, ia berkata bahwa, ’’Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan walimah, dengan salah sesorang  istrinya dengan dua mud gandum.” (HR. Bukhari)

Selain itu, dalam walimah, Islam mengajarkan untuk tidak mengkhususkan undangan hanya untuk orang kaya  tanpa mengundang orang miskin. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الُوَلِيْمَةِ، يُدْعَى لَهَا اْلأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى الله وَرَسُوْلَهُ

“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah yang menghalangi orang-orang yang mau datang dan mengundang orang-orang yang menolak datang. Barang siapa yang tidak mengabulkan undangan maka telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.’’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Siapa yang diundang untuk menghadiri walimah hendaklah ia memuliakan undangan itu. Menghadiri pesta walimah merupakan kebiasaan para generasi salaf, berdasarkan hadis di atas dan juga ini:

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيْمَةِ فَلْيَأْتِهَا

Barang siapa yang diundang untuk menghadiri walimah  hendaklah  datang.’’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan, apabila seseorang sedang berpuasa dan dia mendapat undangan walimah, sebaiknya ia mendapat  mendatangi walimah tersebut, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إذا دعي أحدكم إلى طعام فليجب، فإن كان مفطراً فليطعم، وإن كان صائماً فليصل

jika di antara kalian dundang untuk menghadiri walimah maka hendaklah hadir. Bila sedang berpuasa hendaklah berdoa, dan apabila tidak berpuasa hendaklah makan.” (HR. Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Saya ikut hadir dalam walimah Ali dengan Fatimah dan tidak pernah saya lihat acara walimah yang lebih indah dan syahdu daripada walimah ini. Sebagian tamu ada yang membawa kurma, anggur, makanan untuk makan bersama, dan ada yang membawa selimut untuk malam pengantiin yang terbuat dari kulit kambing kibas.’’

Begitulah pesta pernikahan Fatimah dengan Ali yang meringankan semua pihak. Keduanya hidup berbahagia dan mesra, yang hendaknya dijadikan contoh bagi orang-orang sesudahnya.

Namun, fenomena zaman sekarang, banyak kaum Muslimin meninggalkan cara yang ditempuh Rasulullah dalam menyelenggarakan walimah untuk putrinya. Mereka mengadakan walimah dengan mengikuti trend dan adat setempat. Tidak segan-segan mereka mengeluarkan biaya besar untuk menyelenggarakan pesta mewah yang dianggap bergengsi, walaupun kadang dengan pinjam sana-sini untuk menyewa gedung, menyajikan makanan mewah dan berlimpah, menyewa pelaminan megah dan tata riasnya, serta gemerlapnya gaun pengantin yang seringkali bertentangan dengan syariat. Belum lagi setelah pesta pernikahan, bulan madu di luar negeri atau di hotel bintang lima. Lalu, pengantin laki-laki harus menyiapkan rumah beserta isinya dengan perabotan yang lengkap. Hal ini sungguh akan membuat sebagian pemuda pesimis untuk menikah.

Sungguh, Islam agama yang sangat mulia. ia menganjurkan umatnya untuk hidup sederhana dan apa adanya dalam berbagai hal. Islam sangat menolak gaya hidup penuh kemunafikan, glamour dan bermewah-merah. Islam menganjurkan  acara pesta pernikahan setelah akad nikah berlangsung secara sederhana dan sesuai kemampuan. Pernikahan adalah ikatan suci dan acara sakral yang sebaiknya dihadiri oleh orang-orang shalih dan baik. Mereka berkumpul untuk mengungkapkan pujian perasaan bahagia dan ceria sambil mengucapkan doa dan ucapan selamat agar selalu mendapat rahmat d barakah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Landasan utama adalah ketakwaan dan keimanan yang tertuang dalam khutbah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dilantunkan pada saat khutbah nikah. Ayat-ayat pilihan dalam khutbah tersebut berisikan wasiat mulia penuh nilai kejujuran dan kebenaran yang menjadi tujuan utama Islam saat mengikat hubungan suami istri yang sedang memadu cinta sejati.

[Judul asli: Tata cara walimah sesuai sunnah. Disalin dari buku Cerdas Memilih Jodoh Hal. 121-126, Oleh Ustadz Zainal Abidin, LC. Dicetak dan Disebarkan oleh percetakan rumah penerbit al-manar. Diketik ulang oleh: Muhammad Teguh N]

Pencarian: walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah, walimah adalah,walimah adalah, walimah adalah

Topics #resepsi #walimah