Saat ini, mungkin Anda telah sukses dalam karir. Anda pun mungkin telah menemukan seorang wanita yang Anda anggap cocok, yang Anda tulus mencintainya dan dia pun mengharap cinta dan kemesraan tulus dari Anda. Anda berharap segera merealisasikannya dalam ikatan pernikahan.

Namun, sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, ada baiknya setiap pasangan melihat kembali realita yang ada pada diri masing-masing, agar pernikahan tersebut dapat mewujudkan apa yang menjadi harapan, cita-cita, dan impian bersama. Sebab, kondisi ekstrem yang membuat gundah dan gelisah bisa saja muncul pasca pernikahan sehingga sebuah perkawinan diliputi penyesalan. Lantas muncul rasa bimbang: Apakah rumah tangga layak diteruskan, atau terpaksa menempuh jalan perceraian dengan harapan bisa menemukan impian dan harapan pada wanita lain?

Barangkali Anda punya obsesi dan harapan berlebih tentang calon pendamping. Anda ingin mendapatkan seorang wanita yang cerdas, terampil, cantik dan cekatan. Ketika Anda pulang kerja, ia mampu menjadi pelepas lelah dan penghilang penat, serta mempersembahkan cinta yang menggairahkan.

Terkadang, seorang lelaki terlalu percaya dapat menemukan pasangan yang sabar, jujur, amanah, serta mau mendengar dan mengikuti segala perintah. Namun angan-angan dan harapan impian itu tidak kunjung ia temukan dalam rumah tangganya. Bahkan sebaliknya, justru kenyataan pahit yang ia dapatkan.

Keberhasilan dan kesuksesan mengendalikan bahtera rumah tangga, kembali kepada kesiapan Anda dan pasangan untuk saling melengkapi, dan kesiagaan dalam menghadapi problematika rumah tangga seekstrem apa pun.

Sesungguhnya, kesuksesan pernikahan dipengaruhi oleh persepsi seseorang terhadap pernikahan itu sendiri. Persepsi ini dipengaruhi oleh citra rumah tangga orang tua yang ia lihat sejak kecil, baik berupa keberhasilan, kegagalan, kebahagjaan maupun kepedihan. Dari pengalaman masa kecilnya itulah seseorang dapat membangun harapan atau ketakutan terhadap pernikahan.

Seseorang yang berasal dari pernikahan yang bahagia, misalnya, cenderung memiliki motivasi positif yang tertanam kuat dalam benaknya. Sebaliknya, seseorang yang berasal dari pernikahan yang gagal (broken home) cenderung memiliki motivasi negatif.

Karena itu, seseorang yang berasal dari keluarga broken home, sebaiknya tidak terburu-buru menikah. Ia harus mengubah obsesi dan persepsi tentang pernikahan terlebih dahulu dengan cara menimba pengalaman dari orang-orang yang sukses berumah tangga, kemudian belajar mengatasi problema hidup, sehingga ia akan mampu berpikir positif dan optimis atas setiap kasus yang akan dihadapi.

Tujuan menikah bukan sekadar mendapatkan status, popularitas, kedudukan, meraih posisi penting di masyarakat, fanatisme daerah, atau memenuhi kebutuhan seksual semata. Tujuan yang semacam itu hanya akan menimbulkan kegagalan dan kekecewaan. Memang, aspek seksual dapat mendorong terwujudnya cinta, dan cinta tidak akan langgeng tanpa terpenuhinya kebutuhan biologis tersebut. Namun, aspek seksual semata tidaklah mampu mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan yang sejati.

Boleh dikatakan, terpenuhinya kebutuhan seksual hanyalah pil penenang sesaat yang bisa membuat rileks batin dan pikiran. Sedangkan pernikahan membutuhkan motivasi lebih besar, yakni bertujuan mencari ketenangan jiwa, kepuasan batin, dan stabilitas mental. Inilah generator utama yang seharusnya menjadi pendorong seseorang melangkah ke jenjang pernikahan, di samping faktor agama dan akhlak yang merupakan tujuan dasar dan tidak boleh dilupakan.

Obsesi yang salah, landasan yang labil, dan persepsi yang tidak tepat atas pernikahan, adalah penyebab utama sebuah pernikahan tidak bertahan lama. Suami yang menggantungkan ketenangan dan kepercayaan diri pada istrinya, akan merasa lemah saat cinta sang istri memudar atau saat kepercayaannya berkurang. Pada saat semacam itu, seorang suami akan hancur, atau berusaha mencari ketenangan dan kepercayaan dari sumber lain.

Begitu pula perempuan, hendaknya jangan bertujuan memperbaiki watak, perilaku dan tabiat lelaki. Karena bagaimanapun, seseorang telah terbiasa dengan tabiat dan watak dasarnya. Bahkan keaslian jati dirinya tidak gampang hilang dan akan segera muncul ke permukaan kapan saja. Seorang suami tidak bisa mengubah istrinya menjadi sosok lain. Begitu pula seorang istri, tidak akan bisa membuat suaminya menjadi orang lain.

[Judul asli: Sudahkah Anda Siap menikah. Disalin dari buku Cerdas Memilih Jodoh Hal. 21, Oleh Ustadz Zainal Abidin, LC. Dicetak dan Disebarkan oleh percetakan rumah penerbit al-manar. Diketik ulang oleh: Dedi Purnomo Abu Zaid]