Setelah akad nikah selesai, tibalah saat yang sangat mendebarkan bagi kedua mempelai. Saat yang banyak disebut orang dengan istilah malam pertama. Kata sebagian pemuda, ini adalah malam sekali dalam seumur hidup. Namun yang benar, malam pertama adalah malam penuh kemuliaan dan keberkahan. Ia sebuah langkah awal membangun pondasi rumah tangga.

Malam pertama adalah malam yang sangat mendebarkan hati dua insan yang akan memulai hidup baru. Malam yang penuh dengan ketegangan, kegembiraan, atau ketakutan, karena malam itulah masing-masing akan melakukan hubungan yang akan mengubah status mereka.

Sungguh indah aturan Islam yang melarang dengan tegas hubungan bebas antara laki-laki dan perempuan sebelum akad nikah. Mengapa? Karena jika mereka sudah melakukan hubungan sebelum akad nikah sebagaimana yang banyak terjadi dikalangan pemuda-pemudi saat ini, maka mereka tidak akan merasakan keindahan, kegembiraan, dan kebahagiaan malam pertama. Bahkan mungkin yang mereka rasakan di malam pertama adalah penyesalan, kesedihan, kegundahan, dan rasa dosa yang menggelayuti hidup, sehingga hilanglah kebahagiaan hidup. Hanya tertinggal rasa hambar dan kehampaan yang mendalam. Tiada terasa lagi manisnya Surga Dunia.

Seorang wanita harus memenuhi setiap ajakan suami untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, karena penolakan akan mengakibatkan banyak gangguan dan masalah batin yang sangat fatal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai memberikan peringatan dengan keras, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur (untuk jima’persetubuh) lalu si i istri menolak sehingga (membuat) suami murka kepadanya, maka para malaikat melaknatnya (istri) hingga (waktu) subuh.” Shahih, diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (3237, 5193), Imam Muslim dalam Shahih-nya (1436) dan Imam Abu Daud dalam Sunan-nya (2141).

Malam Pertama Menurut Generasi Salaf

Pada zaman sekarang, para pemuda dan pemudi memanfaatkan malam pertama penuh dengan nuansa yang jauh dari ajaran yang lurus dan sunnah yang suci. Kebiasaan begadang, bersolek, menari-nari, berjoget, dan mendendangkan lagu-lagu cengeng murahan yang penuh dengan kalimat seronok dan palsu, bukanlah yang Islam ajarkan.

Al-Qadhi Syuraih rahimahullah berkata kepada Asy-Sya’bi rahimahullah:

“Wahai Sya’bi, kalau kamu tahu pada waktu malam pertama dalam pernikahanku, sejumlah wanita datang menghantarkan calon istriku hingga dia masuk kepadaku.”

Saya berkata, “Termasuk sunnah bila seorang wanita bertemu dengan suaminya pada malam pertama hendaklah shalat dua rakaat berjamaah, kemudian memohon kepada Allah dari kebaikannya dan berlindung dari keburukannya, sambil membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikannya kebaikan tabiatnya, dan saya berlindung kepadamy d keburukannya dan keburukan tabiatnya.

Setelah selesai dan salam, maka tiba-tiba istri ada di belakangku ikut shalat berjamaah. Ketika kami sedang berdua dalam kamar, maka aku mendekatinya dan aku menjulurkan tangan kananku ke ubun-ubun. Lalu dia berkata, ‘Sebentar wahai Abu Umayyah, diam dulu. ‘Kemudian dia membaca doa:

Segala puji bagi Allah, aku memuji dan meminta bantuan kepada-Nya. Aku membaca shalawat kepada nabi Muhammad dan kepada keluarganya. Ya Allah, sungguh aku wanita yang asing baginya dan aku belum mengenali akhlaknya. Jika nampak kebaikan yang Engkau cintai, aku akan mendatanginya, dan jika ada keburukan yang nampak padanya aku akan menjauhinya.

‘Wahai Abu Umayyah, boleh jadi dahulu ada perempuan yang ingin menikah denganmu dan begitu juga aku ada laki-laki yang ingin menikah denganku, tetapi lah telah menggariskan pertemuan ini. Engkau memiliki kekuasaan penuh atas diriku, lakukanlah seperti yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Apabila ada kebaikan dalam pernikahan ini, maka pertahankan hubungan ini dengan cara yang baik, dan bila ada keburukan sehingga harus berpisah, maka ceraikanlah dengan cara yang baik. Saya ucapkan kalimat ini semoga Allah mengampuni kita semua.'”

Syuraih berkata, “Wahai Sya’bi pada malam itu saya terpaksa berkhutbah dan aku berkata, ‘Segala puji bagi Allah, saya memuji dan meminta bantuan kepada-Nya. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya.

Saya sampaikan kalimat, bila dipegang kamu akan mendapat keuntungan dan bila ditelantarkan kamu akan mendapat kerugian. Aku senang seperti ini dan aku benci seperti ini, dan kita memiliki prinsip sama dalam hal ini. Sehingga janganlah berpisah denganku, bila ada kebaikan mari kita laksanakan dan bila ada keburukan mari kita singkirkan.

la berkata, ‘Bagaimana pandanganmu tentang berkunjung ke rumah keluarga?”

Syuraih berkata, “Saya tidak ingin membuat mertuaku.

la berkata, ‘Siapa saja dari tetangga yang engkau izinkan masuk rumah akan aku persilakan, dan bila tidak suka, maka aku juga akan membencinya.””

Syuraih berkata, “Wahai Syabi, pada malam itu kami menikmati malam pertama dengan hati berbunga-bunga penuh dengan bahagia. Saya hidup selama satu tahun tidak mendapatkan kecuali suatu yang aku cintai. Hingga dipenghujung tahun ketika aku pulang dari Mahkamah, tiba-tiba aku menemui seorang wanita tua mengatur yang ada dalam rumah, lalu saya berkata:

‘Siapa dia?’

Istriku berkata, ‘Dia adalah mertuamu yang perempuan.’

Saya berkata, ‘Semoga Allah mengakrabkan denganmu.’

Lalu dia (ibu mertua) berkata, ‘Bagaimana kamu mendapati istrimu?’

Saya menjawab, ‘Dia adalah sebaik-baik istri.’

la berkata, ‘Wahai Abu Umayyah, sungguh tidak ada kondisi yang paling buruk bagi wanita kecuali dalam dua keadaan, ketika mampu melahirkan anak atau mendapat perhatian lebih dari sang suami. Sehingga bila kamu meragukan istrimu, maka hendaklah kamu ambil cambuk. Demi Allah, tiada suatu perkara yang paling buruk dimasukkan seorang laki-laki ke dalam rumahnya dibanding wanita yang manja.’

Saya berkata, ‘Tenanglah wahai Ibunda, sungguh aku telah mendidik dan mengajari beberapa adab dengan baik dan aku melatihnya untuk hidup secara baik.’

la berkata, ‘Apakah senang bila para kerabat istrimu berkunjung ke rumahmu?’

Saya berkata, ‘Silahkan berkunjung kapan saja.'”

Syuraih berkata, “Mertuaku datang setiap penghujung tahun dan memberi nasihat seperti itu. Aku hidup bersama istriku selama dua puluh tahun tidak pernah menghardiknya, kecuali sekali sementara aku yang zalim.”

[Disalin dari buku Cerdas Memilih Jodoh Hal. 139-143, Oleh Ustadz Zainal Abidin, LC. Dicetak dan Disebarkan oleh percetakan rumah penerbit al-manar. Diketik ulang oleh: Dedi Purnomo Abu Zaid]

Topics #malam pertama #pengantin baru